Rabu, 23 Maret 2016

AL GHALAYANI; Kebohongan Dan kejujuran



Dua tema diatas , tiadalah sepadan dengan pemahaman masyrakat umum,yaitu  secara  sifat kebendaan, namun yang dimaksud olehnya adalah bohong dan sungguh dalam bertindak,bekerja dan berkarya, karena  kenyataan hasil karya adalah hasil dari ucapan  kebohongan dan kejujuran.
Tiada layak bagi seseorang untuk menyatakan pembenaran, jika belum tentu bahwa perkara yang disangkanya masih spekulatif dan dilemma . jika belum tahu persis perkara itu. Perkataan dan ucapan akan berbuah dua ujung, yaitu ujung kemantaban dan ujung keremehan.
Berkwalitas  mantab jika ucapan itu benar serta sesuai dengan tindakan yang benar pula, dan sebaliknya  menjadi remeh jika dikatakan benar akan tetapi perbuatanya masih belum benar.
Kesungguhan ucapan  biasanya  bertumpu pada seseorang yang mamlakah sifat “kuatnya kemauan”, kehendak yang tidak bisa  dihalangi,  selaras sebanding antara  dia, ucapanya, serta kecocokan kemauanya  yang sinkron dengan keadaan.
 Sebaliknnya , orang yang penuh kata ,sebagai juru penerang , namun tiada kenyataan dalam tingkah lakunya, maka jika  bertemu dengan salah satu pihak lain,  dan ada tuntutan dari pihat tersebut untuk pembuktian perkataanya,  akan segera lahir sikap kebohongan berupa alasan-alasan yang sulit difahami. Malu lalu sembunyi, besahabat dengan nifaq dan riya, menghamburkan  waktu hanya untuk alas an belaka. Sikap demikian ini bermula dari kecilnya kehendak di hatinya, tiada terbiasa berbuat jujur sungguh dalam ucapan  , agar memberbekas  cermin kesungguhan dalam tindakan.
Dalam suatu kondisi, yang menuntut untuk pemenuhan janji terhadap apa yang telah dijanjikanya, kalau individu jujur untuk tak mampu memenuhinya maka pihak lain memakluminya, tetapi sikap mengulur waktu beralasan akan melahirkan celaan dari pihak lain dan situasi yang mungkin untuk tidak bisa memenuhi janji, maka lebih baik  tidak mudah member janji.
Perumpamaan sikap seseorang yang menyanggupi suatu pekerjaan “ iya nanti saya kerjakan” tetapi setelah itu tiada melaksanakanya ,justru malah mundur menghilang tidak memenuhinya,  maka yang demikian adalah bukan watak lelaki kesatriya.
Bohong  ucapan hingga tembus dalam kebohongan sikap,  hanyalah lahir dari orang yang rendah moralnya.
Semua orang jika menyatakan janji maka wajib setelahnya , sedikit-demi sedikit melaksanakan janjinya hingga kwajibanya terlampaui sukses.
Dari itu semua,  sebagai poin perbaikan moral bagi kita ,adalah mulia jika  kita sedikit demi sedikit selalu  membiasakan kesungguhan ucapan, kejujuran sikap  sebagai sarana pendidikan benar atas jiwa .
Seseorang yang membiasakan sesuatu perkara, maka lambat selanjutnya orang tersebut akan mendapatkan budi pekerti yang dibiasakanya, pekerti itu tidak mudah tertinggal atau tak rela meninggalkanya  hingga ajal menjemputnya.
Semuga generasi mendatang benar dalam pendidikan  dirinya dan jiwanya , tak lupa akan ucapanya, yang diikuti pula sikap sesuai benar prilakunya. Jauh dari sifat rendah yang gemar meremehkan  apapun yang ada disekitarnya, besar kemauan dan kepedulianya.
Amat sakit rasa, jika ,sebagai manusia tidak di dengar lagi omonganya, bahkan masyrakat  tiada percaya , ibarat  berkata rimba di hutan belantara, tapi ini semua bisa kita jauhi, yakni mari selalu bermula  berucap kata benar, diikuti sikap kesungguhan  kelak masyarakat  menantimu menuju kesejatian kedamaian , berkebahagiaan peradaban.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar