Dua tema diatas , tiadalah
sepadan dengan pemahaman masyrakat umum,yaitu
secara sifat kebendaan, namun
yang dimaksud olehnya adalah bohong dan sungguh dalam bertindak,bekerja dan
berkarya, karena kenyataan hasil karya
adalah hasil dari ucapan kebohongan dan
kejujuran.
Tiada layak bagi seseorang untuk
menyatakan pembenaran, jika belum tentu bahwa perkara yang disangkanya masih
spekulatif dan dilemma . jika belum tahu persis perkara itu. Perkataan dan
ucapan akan berbuah dua ujung, yaitu ujung kemantaban dan ujung keremehan.
Berkwalitas mantab jika ucapan itu benar serta sesuai
dengan tindakan yang benar pula, dan sebaliknya
menjadi remeh jika dikatakan benar akan tetapi perbuatanya masih belum
benar.
Kesungguhan ucapan biasanya
bertumpu pada seseorang yang mamlakah sifat “kuatnya kemauan”, kehendak
yang tidak bisa dihalangi, selaras sebanding antara dia, ucapanya, serta kecocokan kemauanya yang sinkron dengan keadaan.
Sebaliknnya , orang yang penuh kata ,sebagai
juru penerang , namun tiada kenyataan dalam tingkah lakunya, maka jika bertemu dengan salah satu pihak lain, dan ada tuntutan dari pihat tersebut untuk
pembuktian perkataanya, akan segera
lahir sikap kebohongan berupa alasan-alasan yang sulit difahami. Malu lalu
sembunyi, besahabat dengan nifaq dan riya, menghamburkan waktu hanya untuk alas an belaka. Sikap
demikian ini bermula dari kecilnya kehendak di hatinya, tiada terbiasa berbuat
jujur sungguh dalam ucapan , agar
memberbekas cermin kesungguhan dalam
tindakan.
Dalam suatu kondisi, yang
menuntut untuk pemenuhan janji terhadap apa yang telah dijanjikanya, kalau
individu jujur untuk tak mampu memenuhinya maka pihak lain memakluminya, tetapi
sikap mengulur waktu beralasan akan melahirkan celaan dari pihak lain dan
situasi yang mungkin untuk tidak bisa memenuhi janji, maka lebih baik tidak mudah member janji.
Perumpamaan sikap seseorang yang
menyanggupi suatu pekerjaan “ iya nanti saya kerjakan” tetapi setelah itu tiada
melaksanakanya ,justru malah mundur menghilang tidak memenuhinya, maka yang demikian adalah bukan watak lelaki
kesatriya.
Bohong ucapan hingga tembus dalam kebohongan sikap, hanyalah lahir dari orang yang rendah
moralnya.
Semua orang jika menyatakan janji
maka wajib setelahnya , sedikit-demi sedikit melaksanakan janjinya hingga
kwajibanya terlampaui sukses.
Dari itu semua, sebagai poin perbaikan moral bagi kita
,adalah mulia jika kita sedikit demi
sedikit selalu membiasakan kesungguhan
ucapan, kejujuran sikap sebagai sarana
pendidikan benar atas jiwa .
Seseorang yang membiasakan
sesuatu perkara, maka lambat selanjutnya orang tersebut akan mendapatkan budi
pekerti yang dibiasakanya, pekerti itu tidak mudah tertinggal atau tak rela
meninggalkanya hingga ajal menjemputnya.
Semuga generasi mendatang benar
dalam pendidikan dirinya dan jiwanya ,
tak lupa akan ucapanya, yang diikuti pula sikap sesuai benar prilakunya. Jauh dari
sifat rendah yang gemar meremehkan
apapun yang ada disekitarnya, besar kemauan dan kepedulianya.
Amat sakit rasa, jika ,sebagai
manusia tidak di dengar lagi omonganya, bahkan masyrakat tiada percaya , ibarat berkata rimba di hutan belantara, tapi ini
semua bisa kita jauhi, yakni mari selalu bermula berucap kata benar, diikuti sikap
kesungguhan kelak masyarakat menantimu menuju kesejatian kedamaian ,
berkebahagiaan peradaban.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar