“Man Nasyada
al fadhiilah, fal yathlub ha fi al I’tidal” : Barang siapa ingin berpenampilan
keutamaan maka carilah dalam I’tidal / sikap sederhana.
Bersikap
sederhana dalam berfikir atau berpendapat. Sederhana dalam konsumsi makanan dan
minuman serta berpakaian hingga seluruh
perkara yang bias dilihat dan di angan-angan.
Barang siapa
yang bersikap tengah-tengah maka akan berefek selamat, kemudian dua sisi tepi yang lain adalah keterlaluan
dan keteledoran. Maka sikap tengah- tengah itu mencakup sikap perkara apa saja
agar menjadi sedang-sedang saja.
#Sifat
berani adalah tengah-tengah antara sikap berangasan dan sikap jirih (penakut).
#Sifat
dermawan adalah tengah-tengah antara sifat boros dan bakhil.
#dan
seterusnya.
Terlalu
cerdas itu juga bias menghantar siempunya untuk jatuh beprilaku yang tidak
patut bagi orang yang tidak sempurna pengetahuan nalarnya.
Taqwa yang
terlalu bias melahirkan was-was yang berakibat tertinggalnya ibadah dari waktu
yang tersedia , dan menetap sebagai sikap orang fasiq yang bermaksiat.
Maka dari
hal semua itu, peraturan-peraturan Agama Allah melarang perilaku keterlauan
dalam perkara ibadah dan memerintahkan supaya bertindak sederhana dalam ibadah
.
Dawuh ,
Rosulillah “ Barang siapa tercerai dari rombongan maka bagaikan (La Ardhun Qatha’a wa la
Dhahran abqhaa”)tiada tanah yang
terlangkahi dan tiada kendaraan tertumpangi.
Keilmuan
yang terlalu mendalam tentang kemanusiaan biasa berakibat tampak kebodohan yang
segaja maupun tidak sengaja, kadang terlalu melampaui batas pengetahuanya,
kadang Nampak pada prilakunya yang tidak sesuai dengan kebutuhan dirinya.
Maka ada
setandar Kaidah yaitu : semua perkara yang melampaui batar kewajaranya maka
yang terjadi adalah kebalikanya. Kaidah ini juga berlaku bagi keberlangsungan
perikehewanan, seluruh tumbuhan, setiap benda jamadi, dan segmen-segmen pola
pemikiran, pola-pola perasaan, hingga level pergaulan kemasyarakatan.
Manusia
berakal akan menempatkan dirinya pada posisi tengah-tengah dalam setiap urusan,
dan sederhana dalam bersikap yang meliputi keadaan yang berkaitan dengan
pekerjaan, kemasyarakatan serta keagamaan.
“fa inna Al
I’tidala huwa as-salamatu wama dharra al amatu illa tarku al I’tidala” perilaku
sederhanalah yang bengakibatkan selamat, jika ada kaum atau golongan menjadi
pesakitan dan madharat hanya kerena
mereka meninggalkan
kesederhanaan.
Maka
rekomendasi bagi kita Para Pemuda harapan masyarakat, berpenampilan sikap
sederhana adalah pilihan menuju keselamatan, serta berusaha meninggalkan dua
sumbu tepi syaithoniyyah “terlalu dan
fatalis(nglakra)”, sebaik-baik perkara adalah tengh-tengah karena tengah-tengah
ada keutamaan , dan keutamaan adalah yang paling di cari bagi orang yang ingin
menyempurnakan jiwanya.