Rabu, 23 Maret 2016

AL GHALAYANI : ”AL - I’TIDAL” (Sederhana)



“Man Nasyada al fadhiilah, fal yathlub ha fi al I’tidal” : Barang siapa ingin berpenampilan keutamaan maka carilah dalam I’tidal / sikap sederhana.
Bersikap sederhana dalam berfikir atau berpendapat. Sederhana dalam konsumsi makanan dan minuman  serta berpakaian hingga seluruh perkara yang bias dilihat dan di angan-angan.
Barang siapa yang bersikap tengah-tengah maka akan berefek selamat, kemudian  dua sisi tepi yang lain adalah keterlaluan dan keteledoran. Maka sikap tengah- tengah itu mencakup sikap perkara apa saja agar menjadi sedang-sedang saja.
#Sifat berani adalah tengah-tengah antara sikap berangasan dan sikap jirih (penakut).
#Sifat dermawan adalah tengah-tengah antara sifat boros dan bakhil.
#dan seterusnya.
Terlalu cerdas itu juga bias menghantar siempunya untuk jatuh beprilaku yang tidak patut bagi orang yang tidak sempurna pengetahuan nalarnya.
Taqwa yang terlalu bias melahirkan was-was yang berakibat tertinggalnya ibadah dari waktu yang tersedia , dan menetap sebagai sikap orang fasiq yang bermaksiat.
Maka dari hal semua itu, peraturan-peraturan Agama Allah melarang perilaku keterlauan dalam perkara ibadah dan memerintahkan supaya bertindak sederhana dalam ibadah .
Dawuh , Rosulillah “ Barang siapa tercerai dari rombongan  maka bagaikan (La Ardhun Qatha’a wa la Dhahran  abqhaa”)tiada tanah yang terlangkahi dan tiada kendaraan tertumpangi.
Keilmuan yang terlalu mendalam tentang kemanusiaan biasa berakibat tampak kebodohan yang segaja maupun tidak sengaja, kadang terlalu melampaui batas pengetahuanya, kadang Nampak pada prilakunya yang tidak sesuai dengan kebutuhan dirinya.
Maka ada setandar Kaidah yaitu : semua perkara yang melampaui batar kewajaranya maka yang terjadi adalah kebalikanya. Kaidah ini juga berlaku bagi keberlangsungan perikehewanan, seluruh tumbuhan, setiap benda jamadi, dan segmen-segmen pola pemikiran, pola-pola perasaan, hingga level pergaulan kemasyarakatan.
Manusia berakal akan menempatkan dirinya pada posisi tengah-tengah dalam setiap urusan, dan sederhana dalam bersikap yang meliputi keadaan yang berkaitan dengan pekerjaan, kemasyarakatan serta keagamaan.
“fa inna Al I’tidala huwa as-salamatu wama dharra al amatu illa tarku al I’tidala” perilaku sederhanalah yang bengakibatkan selamat, jika ada kaum atau golongan menjadi pesakitan dan madharat hanya kerena  mereka meninggalkan  kesederhanaan.
Maka rekomendasi bagi kita Para Pemuda harapan masyarakat, berpenampilan sikap sederhana adalah pilihan menuju keselamatan, serta berusaha meninggalkan dua sumbu tepi syaithoniyyah  “terlalu dan fatalis(nglakra)”, sebaik-baik perkara adalah tengh-tengah karena tengah-tengah ada keutamaan , dan keutamaan adalah yang paling di cari bagi orang yang ingin menyempurnakan  jiwanya.

AL GHALAYANI; Kebohongan Dan kejujuran



Dua tema diatas , tiadalah sepadan dengan pemahaman masyrakat umum,yaitu  secara  sifat kebendaan, namun yang dimaksud olehnya adalah bohong dan sungguh dalam bertindak,bekerja dan berkarya, karena  kenyataan hasil karya adalah hasil dari ucapan  kebohongan dan kejujuran.
Tiada layak bagi seseorang untuk menyatakan pembenaran, jika belum tentu bahwa perkara yang disangkanya masih spekulatif dan dilemma . jika belum tahu persis perkara itu. Perkataan dan ucapan akan berbuah dua ujung, yaitu ujung kemantaban dan ujung keremehan.
Berkwalitas  mantab jika ucapan itu benar serta sesuai dengan tindakan yang benar pula, dan sebaliknya  menjadi remeh jika dikatakan benar akan tetapi perbuatanya masih belum benar.
Kesungguhan ucapan  biasanya  bertumpu pada seseorang yang mamlakah sifat “kuatnya kemauan”, kehendak yang tidak bisa  dihalangi,  selaras sebanding antara  dia, ucapanya, serta kecocokan kemauanya  yang sinkron dengan keadaan.
 Sebaliknnya , orang yang penuh kata ,sebagai juru penerang , namun tiada kenyataan dalam tingkah lakunya, maka jika  bertemu dengan salah satu pihak lain,  dan ada tuntutan dari pihat tersebut untuk pembuktian perkataanya,  akan segera lahir sikap kebohongan berupa alasan-alasan yang sulit difahami. Malu lalu sembunyi, besahabat dengan nifaq dan riya, menghamburkan  waktu hanya untuk alas an belaka. Sikap demikian ini bermula dari kecilnya kehendak di hatinya, tiada terbiasa berbuat jujur sungguh dalam ucapan  , agar memberbekas  cermin kesungguhan dalam tindakan.
Dalam suatu kondisi, yang menuntut untuk pemenuhan janji terhadap apa yang telah dijanjikanya, kalau individu jujur untuk tak mampu memenuhinya maka pihak lain memakluminya, tetapi sikap mengulur waktu beralasan akan melahirkan celaan dari pihak lain dan situasi yang mungkin untuk tidak bisa memenuhi janji, maka lebih baik  tidak mudah member janji.
Perumpamaan sikap seseorang yang menyanggupi suatu pekerjaan “ iya nanti saya kerjakan” tetapi setelah itu tiada melaksanakanya ,justru malah mundur menghilang tidak memenuhinya,  maka yang demikian adalah bukan watak lelaki kesatriya.
Bohong  ucapan hingga tembus dalam kebohongan sikap,  hanyalah lahir dari orang yang rendah moralnya.
Semua orang jika menyatakan janji maka wajib setelahnya , sedikit-demi sedikit melaksanakan janjinya hingga kwajibanya terlampaui sukses.
Dari itu semua,  sebagai poin perbaikan moral bagi kita ,adalah mulia jika  kita sedikit demi sedikit selalu  membiasakan kesungguhan ucapan, kejujuran sikap  sebagai sarana pendidikan benar atas jiwa .
Seseorang yang membiasakan sesuatu perkara, maka lambat selanjutnya orang tersebut akan mendapatkan budi pekerti yang dibiasakanya, pekerti itu tidak mudah tertinggal atau tak rela meninggalkanya  hingga ajal menjemputnya.
Semuga generasi mendatang benar dalam pendidikan  dirinya dan jiwanya , tak lupa akan ucapanya, yang diikuti pula sikap sesuai benar prilakunya. Jauh dari sifat rendah yang gemar meremehkan  apapun yang ada disekitarnya, besar kemauan dan kepedulianya.
Amat sakit rasa, jika ,sebagai manusia tidak di dengar lagi omonganya, bahkan masyrakat  tiada percaya , ibarat  berkata rimba di hutan belantara, tapi ini semua bisa kita jauhi, yakni mari selalu bermula  berucap kata benar, diikuti sikap kesungguhan  kelak masyarakat  menantimu menuju kesejatian kedamaian , berkebahagiaan peradaban.

Al ghulayaini : Asyik- masyuk menjadi orang nomor satu?1??



Bismillah,,Alhamdulillah,,sholli ‘alaarosulillah,,,amma ba’d
Ulasan selanjutnya,,,,,,,,
Kelompok tanpa pemimpin sehingga tidak ada koneksi petunjuk arah tujuanya, sebab kelompok yang demikian adalah seperti situasi seseorang yang berjalan ditengah-tengah padang yang luas, liar, sinyal-sinyal petunjuk arah yang selalu samar dan juga menakutkan, seperti dipadang yang luas hingga tanah dan langitnya serupa warnanya.
Kelompok atau suatu kaum yang pemimpinya mabuk kepayang bersahwat menjadi pemimpin, akan berimbas negative, lebih-lebih sikap dan sifat ini di miliki oleh anggota kaum atau kelompok itu,maka kondisi kaum itu akan masuk dalam situasi yang  tidak terurus dan lebih dari kerusakanya.
Sikap senang menjadi pemimpin itu, menjadi penyakit di antara bangsa-bangsa timur, sikap ini demikian merusak, secara terang berebut menjadi pimpinan, inilah penyakitny, sulit sekali dicari obatnya. Para pimpinan di derah timur rata-rata cenburu terhadap kaum, juga sakit  yang dirasakanya, betapa tidak  adanya gerakan menggalang kekuatan yang hanya ingin menantang  an menyakiti hati para pemimpinya.
Jika halnya demikian, maka apabila pemimpinya adalah pemimmpin sejati ,maka tentunya gerakan yang demikian tiadaklah akan ditanggapi tetap waspada dalam bijak. Tetapi tetap brerjalan diatas rel untuk kemakmuran masyarakat yang dipimpinya, tidak merisaukan keadaan gawat yang merintanginya, tidak goyang akan kerumitan dan kesulitan.
Tetapi jika hanya ada sedikit tantangan, pemimpin itu goyah, maka sikap ini adalah cermin kelemahan kwalitasnya, atau kurang bijak. Maka sudah semestinya jika orang yang demikian sikapnya janganlah dijadikan pemimpin masyarakat.
Sangat langka ada orang yang tidak ingin menjadi pimpinan , dan bahkan orang yang ahli memimpin itu  sangat sedikit, sebab kepemimpinan itu bukan seperti barang dagangan yang dijualbelikan dan bukan seperti baju yang apabila dipakai terus berubah menjadi pimpinan???, namun pimpinan adalah ruh dan nyawa masyrakat bangsa itu sendiri.
Apakah ada masyarakat yang senang? , jika pemimpinya adalah si lemah bin apes atau si dholal bin fahal, atau si sesat bin hiyanat atau si fasik bin maksiat. Setiap pimpinan yang diduduki oleh orang “brama curah” yang tiada treck record” tanpa pendirian,  maka bias dijamin bahwa masyarakat atau bangsa itu akan bangkrut, bobrok dan akhirnya lahir kerusakan-kerusakan.
Pemimpin bukan diperoleh dengan cara beli suara yang disebar oleh pengikutnya dengan tujuan supaya masyarakat memilihnya. Dan pemimpin akan lahir dari tabiat sikap  sesorang yang mashur dikenal seantero pelosok negeri berkaitan dengan sifat- sikapnya yang utama,
 #yang malas untuk berperilaku buruk
# bersih dari pamrih akan sikap-sikapnya
# tabah hatinya
#luhur cita-citanya
#cerdas akalnya
#terjaga batinya
#jelas terlihat budi pekertinya
#Mengerti apa yang menjadi kebutuhan masyarakat
#usahanya menguntungkan masyarakat
#usahanya mengangkat derajat masyarakat
Jika ada watak sikap yang demikian barulah dapat di promosikan sebagai pemimpin sekaligus tokoh  di masyarakat. Maka segala ucapanya akan diikuti masyarakat sekaligus menggerakkan kepada derajat kemajuan.
Dan kenyataan lagi ,mengenai kelas yang lain, kelas ini dalam komunitas juga merupakan kompetitor , berusaha keras supaya terangkat menjadi pemimpin, akan teapi kalah tidak berhasil enjadi nomor satu, karena kekalahanya itu akibat partisipasinya dalam berjuang adalah kurang dari porsinya, kemudian hal ini menampakkan kelas baru yaitu golongan oposisi yang  hari demi harinya adalah mengkritik, tetapi kritikanya itu kadang kurang sepadan yang akhirmya hanya merong-rong  kehormatan dan kewibawaan belaka. Golongan ini  kadang kurang sepadan di garis oposisinya, terlena menjadi pengkritik yang akhirnya akan menampakkan rahasia keburukanya sendiri. Yang akhirnya akan dijauhi simpatik namun dekat dengan penolakan atas kehadiranya oleh masyarakat.
Kelas ekstrim yang terakhir ini adalah golongan yang gagal dalam usahanya menjadi pimpinan, tetapi yang jadi jalanya adalah merekrut memakai simbul-simbul  agama, sementara pihak ini sebenarnya memusuhi agama, kemudian berani mengkafir-kafirkan pihak lain yang tidak sejalan denganya, menganggap bahwa  pihak lain lah yang menyeleweng dari agama. Kemudian secara bodoh panjang lebar  mencela pemimpin lain atas nama agama, tetapi yang terjadi adalah ketika  ditengah-tengah masyarakat ,penampilanya yang kelihatan sungguh-sungguh malah dijauhi oleh mesyarakatnya yang kemudian ditinggalkanya.
Wal hasil; sebagai perspektif , maka lapisan pemuda  generasi masa depan , semoga selalu waspada akan tragedy buruk suksesi kepemimpinan, kelak semoga di jaga oleh ALLOH generasi muda kita, siap berkemajuan, mamlakah sifat-sifat kewiraan dan keutamaan. Semoga dijauhkan sifat suka menjadi pemimpin tetapi punya keperwiraan siap jika diberi amanah berjuang memancar luaskan sifat-sifat utama akhlakul karimah, hati selalu terjaga untuk tidak selalu ingin mendambakan menjadi pemimpin yang oportunis sesaat, namun menjadi benteng masyarakat penggerak masyarakat tanpa pamrih, lebih dekat menjadi kaki tangan  membantu tegaknya ahli pemimpin yang bener-benar ahli, sehingga tujuan kemaslhatan masyarakat dan bangsa menjadi lebih baik.

AL GHALAYANI : PEMIMPIN DAN KEPEMIMPINAN



Bismillah,,,,Alhamdulillah,,,sholatuhu wasalamuhu,, amma ba’d,,,,yangfa’una bibarokatihim.
Telah menjadi sunnatulloh bahwa  masing-masing dari  golongan mahluk ada yang namanya pemimpin dan ada yang memimpin,ada kepala dan yang mengepalai serta ada ketua dan yang mengetuai, hal ini supaya pedoman dari sekian banyak kelompok tersebut supaya tidak saling bertolak belakan antara golongan satu dengan golongan lain, menjamin pula supaya perselisihan antara pihak-pihak itu cerai berai, saling terbina kerukunan persaudraan  antara mereka.
Jika golongan tertentu tidak mempunyai  kepala  atau yang mengepalai sebagai tempat condong tunduk atas  munculnya perkara yang  pelik dan rumit, maka kondisi golongan itu seperti  seseorang yang mengendarai onta liar yang berhenti di malam gelap gulita , mengalami kebingungan,ia tahu dengan berhenti itulah kebijakan yang menyelamatkan.
Begitu pula umat,golongan atau bangsa akan tahu, jika pemimpinya rusak maka rusak pula bangsanya atau kelompoknya.
Karena umat mustahil  akan bergerak  tegak berdikari  jika tanpa  adanya pemimpin yang mengggerakkanya. Dalam kenyataan ada kalanya suatu kaum atau kelompok jatuh terpeleset,kadang mengalami ketidak lurusan haluan,kadang  roboh,kadang tersesat dari jalan yang semestinya.
Pemimpin tidaklah menjadi pemimpin sejati jika tidak memenuhi syarat-syarat menjadi pemimpin.
#Akal yang cerdas
#Ilmu yang cukup
#Kebijakan yang benar
#Menjaga kehormatan diri
#Cerdik
#bersih hatinya
#Perilaku yang baik
#Pemurah
#selalu menebar keilmuan ditengah-tengah  kelompok yang jadi wilayahnya
#Sanggup menaggung beban
Demikian adalah cirri-ciri pemimpin yang baik dan yang akan memimpin golonganya, maka jika tidak mencerminkan kategori sikap di atas tentu  ,pihak  ini hanyalah mengaku mengekor ikut-ikutan menjadi pemimpin, yang ujung pangkalnya hanya mencari status dan kedudukan belaka maka hindarilah.
Jika orang yang ringkih akalnya , kemudian memimpin kemudian tidak memiliki syarat mendudukinya walaupun sedikit saja,maka orang tersebut lupa bahwa kalau seorang pemimpin itu harus menjadi garda depan mengetuai masyarakat,menjadi juru bahasa masyarakat,  maka suatu ketika masyarakat tersebut mengalami situasi yang sulit, pemimpin harus menjadi benteng masyarakat,menjadi tempat menghiba jika masyarakat sedang sakit ,menjadi sandaran masyarakat atas perkara yang penting.
Dalam peradaban islam pernah dipimpin oleh tokoh yang benar-benar ihklas , dan tokoh yang baik hingga mampu memperbaiki masyarakat.
Akan tetapi bak timbangan yang tidak setel ,jika  ada pemimpin yang di angkat dari orang-orang fasik,orang yang rendah perilakunya, sikapnya selalu mengajak kebodohan dan maksiat,pengiyanat pribadi yang menjadi kekasih syetan. Maka mengertilah jika masa itu beredar berputar, saat sekarang ini sebuah golongan yang tercerah (islam) telah bangun dari tidur, sekarang ini umat atau bangsa tidak rela  jika terus menerus hanya menjadi tawanan para perusak dan penggerak perbudakan.
Bangsa atau umat tidak mau menetapkan kepemimpinan dan pemimpin kecuali hanya kepada mereka yang bisa berbuat baik dan selalu menebar keshalihan, yang sanggup membela demi hidupnya bangsa masyarakat, yang sanggup berpayah diri demi  keharmonisan masyarakat. Mereka yang sanggup menderita asalkan masyarakat menemukan kebahagiaan.
Maka dari itu, pemuda adalah garda depan kemajuan besertanya ilmu yang mendalam, peganganya adalah pekerti yang utama, perilakunya tercermin kebaikan, akalnya memancarkan kecerdasan supaya kelak menjadilah terlahir menjadi pemimpin masa depan masyarakat dan mempelopori saudara-saudaranya.
Jangan sampai hanya mimpi  melamun sebagai pemimpin yang dipengaruhi oleh tingginya kedudukan sebagai pimpinan, namun sekali lagi sebenarnya tidak ahli menduduki itu semua itu. Maka hanya akan menghantarkan masyarakat menuju kerusakan dan kehinaan.
Masyarakat yang tak memiliki pemimpin tak akan bisa baik kemasyarakatnya, tidak muncul kemuliaan jika orang bodoh menjadi pemimpin, ibarat rumah tidak akan berdiri tegak jika tidak ada tiang, begitu pula tiang tidak kokoh jika tidak berpondasi,  jika pondasi dan tiang itu berpadu , masyarakat akan bisa mencapai cita-cita mereka.

Alhamdulillah ,,,selesai tentang…” pemimpin dan kepemimpinan” ,,,,OYOTKALI.COM